Di Mesir, Pageblug Rasa The Purge

Oleh: Faris Ibrahim (Penulis buku Diary Azhari, mahasiswa Akidah- Filsafat Universitas al-
Azhar, Kairo)

Gara- gara Corona, mendadak segala pengalaman jadi berasa langka. Sebulan yang lalu,
saat untuk kali perdana mendengar kumandang adzan Syaikh Samir dari mihrab masjid Nurul-
Huda, rasanya seperti sedang melihat langsung Da Vinci melukis Monalisa di depan mata.

Benar- benar pengalaman yang amat langka‒ mendengar adzan yang sejak lahir terdengar
begitu- begitu saja bunyinya, tiba- tiba terdengar lafaz baru di dalamnya: “alā shollū fī
buyūtikum, alā shollū fi rihālikum.”

Demi mengabadikan momen langka tersebut, beberapa kali saya merekamnya dari
samping jendela. Saya kira momen yang seperti itu hanya bakal terjadi satu- dua- tiga kali saja.
Nyatanya tidak, sampai Ramadhan tiba, ternyata bunyinya masih sama. Sama namun tidak lantas
menjadikannya biasa, adzan itu tetap masih langka; ia yang biasanya menyambut kelahiran,
belakangan mengiringi pula kematian. Adzan itu seakan jadi obor yang meresmikan Olimpiade
Corona, pengganti Olimpiade Tokyo yang ditunda.

Toh seperti biasa, Amerikalah yang sedang memuncaki daftar perolehan sementara
medalinya. Adapun Mesir, sampai tulisan ini diketik sambil rebahan di sofa, cukup
menghawatikan juga membacanya: 56. 809 kasus, 15.133 yang sembuh, 2.278 yang tak
beruntung hingga harus meregang nyawa. Belum ada tanda- tanda penurunan, nyatanya
perolehan medali itu terus merangkak perlahan- lahan bertambah; karenanya Perdana Menteri
Mostafa Medbouly beberapa waktu lalu, kembali menegaskan komitmennya memberlakukan
jam malam.

Dari jam 7 petang, sampai dengan jam 6 di pagi hari, setiap detiknya benar- benar terasa
mencekam. Keluar dari restoran Thailand jam 5 sore hari, serasa jadi Ashabul Kahfi yang keluar
gua langsung melihat perubahan yang mengejutkan. Mendadak semua jadi mulai sepi, sunyi.
Menapaki sepanjang jalan Ahmed el- Zomor untuk membeli pisang di tukang buah- buahan,
serasa seperti dihantui oleh semacam ketakutan saat siaran dimulainya ‘pembersihan’ di film The
Purge (2013) sudah resmi diberlakukan.

The Purge garapan sutradara kenamaan Amerika, James DeMonaco, menggambarkan
Amerika yang sudah tidak lagi digdaya. Ledakan populasi penduduk, krisis ekonomi akut, partai
penguasa memutarbalik otak untuk mencarikan solusinya. Ketemulah sebuah ide gila namun
masuk di akal: pembersihan (purge). Dengan maksim: semua orang memiliki haknya, tak
terkecuali hak untuk melampiaskan amarahnya, alhasil Amerika melegalkan kejahatan untuk
satu malam, termasuk di dalamnya pembunuhan.

“This is not a test. This is your emergency broadcast system announcing the
commencement of the annual purge,” saya jadi terbayang jikalau siaran resmi itu berkumandang
dari toa- toa masjid sekitaran, wah mengerikan. Tapi memang kalau dipikir- pikir, wabah Corona
ini memang sepenuhnya menyaru pembersihan (purge), di mana orang- orang kaya bisa

berlindung darinya sembari rebahan dalam rumah mewahnya, sedang bagi mereka yang tidak
punya rumah, hanya bisa pasrah menunggu giliran.
Sepasrah Ahmad‒ tukang sampah yang harus datang ke flat kami setiap hari Sabtu dan
Selasa, mau bagaimana lagi, ia dan keluarga harus makan untuk dapat bertahan. Organisasi
Perburuhan Internasional (ILO) mencatat: lebih dari empat dari lima orang (81 persen) tenaga
kerja global terkena dampak penutupan tempat kerja secara langsung, dan Ahmad menolak untuk
jadi salah satu dari mereka. Jadi pengais sampah, adalah peruntungannya satu- satunya, ia harus
bekerja bagaimana pun caranya.

Orang- orang miskin memang selalu dihadapkan dengan keadaan tanpa pilihan. Keadaan
itulah boleh jadi yang seringkali membuat saudagar- saudagar kaya‒ pemilik alat produksi selalu
bisa leluasa mengeksploitasi mereka‒ para pekerjanya kapan saja, di mana saja sesuai
kehendaknya. Corona apalah dia, biskuit coklat di waralaba? Naguib Sawiris‒ orang terkaya
kedua di Mesir tak mau tahu, ia mengancam akan bunuh diri jika sampai 8 April pembatasan
terhadap para pekerja di pabriknya tetap diberlakukan.

Seperti logika kebanyakan pialang saham yang gila kekayaan, Sawiris pun mencoba
berdalih cari- cari pembenaran: “hanya satu persen dari mereka yang tertular virus akan
meninggal karena COVID-19.” Di mata Sawiris, buruh- buruhnya hanyalah kumulasi persenan,
mesin- mesin yang mesti bekerja bagaimana pun caranya, tidak ada mulia- mulianya. Kematian
para buruhnya yang bekerja di tengah wabah Corona hanyalah statistika, sedang kematiannya,
barulah merupakan tragedi yang akan muncul di berita.

Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Joseph Stalin: “Kematian satu orang
adalah tragedi; kematian jutaan orang adalah statistik.” Dan itu berkelindan dengan fakta
bahwa orang miskin memang selalu lebih banyak jumlahnya ketimbang orang kaya di dunia.
Karenanya, kematian para pekerja yang miskin tidak akan pernah sesakral kematian majikannya
yang kaya. Kesakralan telah tercerabut dari garis takdir rakyat jelata. Maka menurut hemat
Sawiris, tidak perlu hemat- hemat dengan nyawa pekerja.

Lagi pula, kepada The Defense Post, Sawiris bilang: “militer menguasai 40% perekonomian negara.” Ditambah lagi dengan laporan organisasi anti korupsi transparansi Internasional yang memprediksi angkanya lebih besar, yaitu 60%. Lewat pemaparan itu, agaknya seakan Sawiris ingin bilang pada pemerintah: tidak perlu ada dusta di antara kita, pembersihan (purge) terhadap kelas pekerja dan usaha- usahanya telah kita lakukan sejak lama, jauh sebelum datangnya pandemi Corona.

Sulit memang untuk menyangkal, pemerintah tidak ikut bersalah dalam perkara ini. Di
negera yang pom bensinnya saja dijaga oleh tentara, adalah perkara yang mudah memang untuk
menyimpulkan: negara memang sedari dulu tidak berpihak kepada usaha rakyatnya. Jadi,
sebenarnya tidak juga serta- merta Sawiris yang mesti kena getahnya, Abdul Fattah al- Sisi‒
presiden Mesir‒ dan lingkaran oligarki tentaranya sebenarnya lebih patut dikambinghitamkan
ketimbang dirinya yang cuman pengusaha.

Toh di Mesir, agaknya jarang pula kita mendengar kicauan media yang bunyinya:
pengusaha dan tentara. Seperti kaos oblong menjelang lebaran di Ramayana, yang beli satu dapat
dua, di Mesir, jadi tentara artinya jadi juga pengusaha, dia- dia juga orangnya. Berpatroli dengan
plat hijau bukan hanya artinya menjaga kedaulatan negara dari pengacau di Sinai, namun juga
menjaga proyek pemindahan ibukota yang dibidani oleh El Arish Cement Co yang 51%
sahamnya dikuasai tentara.

Beginilah nasib jadi rakyat jelata di negara Piramida. Seperti sungai Nil, tak ada habis-
habisnya dikuras pengusaha dan tentara. Apalagi di tengah wabah Corona, benarlah apa kata
Musthafa Mahmud dahulu kala: “akan ada sekumpulan orang yang siang malam berusaha
mencari penawar, dan akan ada pula yang hanya bisa pasrah menunggu takdir yang telah
ditetapkan,” agaknya untuk yang terakhir, sastrawan kawakan Mesir itu seakan sedang berbicara
tentang bangsanya sendiri, terutama nasib kelas pekerjanya.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.