Babak Baru Cilegon Tanpa Trah

Cilegon (WB) – Pilkada 2020 jadi babak baru bagi warga Kota Cilegon. Trah keluarga eks Wali Kota Cilegon dua periode, Tb. Aat Syafat, yang diwakili putrinya, Ratu Ati Marliati, untuk memimpin daerah hampir pasti tidak berlanjut. Pasalnya, hasil rapat pleno terbuka KPU Kota Cilegon, Rabu (16/12), perolehan suara Ati tumbang di tangan sang rival, Helldy Agustian.

RAPAT pleno KPU Kota Cilegon diikuti seluruh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), disaksikan Bawaslu Kota Cilegon dan saksi dari masing-masing paslon. Berdasarkan rekapitulasi dalam rapat pleno terbuka itu, pasangan calon nomor urut 4, Helldy Agustian -Sanuji Pentamarta unggul di 5 kecamatan di Kota Cilegon. Pasangan yang diusung Berkarya dan PKS itu memperoleh 75.449 suara atau 34,4 persen.

Sedangkan paslon nomor urut 2, Ratu Ati Marliati-Sokhidin memperoleh 64.815 suara atau 29,7 persen. Padahal pasangan ini didukung oleh Partai Golkar, PKB, Partai Gerindra, dan Nasdem. Sementara paslon nomor urut 1, Ali Mujahidin-Firman Mutakin meraih 47.483 suara atau 21,6 persen, dan nomor urut 3, Iye Iman Rohiman-Awab memperoleh 31.496 suara atau 14,3 persen.

Hasil ini memang belum final. Bisa saja, akan ada gugatan yang dilayangkan. Seperti yang ditunjukkan saksi kubu Ati yang tidak bersedia menandatangani hasil pleno.

“Kita tidak menandatangi hasil rekapitulasi karena kita mengambil hak hukum yang dimungkinkan oleh konstitusi. Kita mengindikasi telah terjadi kecurangan oleh calon tertentu secara terstruktur, sistematis dan masif. Oleh karenanya, kita sedang melakukan upaya-upaya di Bawaslu dan tidak menutup kemungkinan kita akan teruskan ke Mahkamah Konstitusi (MK), ” kata saksi Paslon nomor urut 2, Samudi, Rabu (16/12).

Di pilkada tahun ini, Ati yang menjabat Wakil Wali Kota Cilegon memanggul trah keluarga sekaligus trah Golkar. Kakak kandung mantan walikota Cilegon Tb. Iman Ariyadi ini, sebelumnya disebut-sebut memiliki kans besar memenangi pilkada. Bagaimana tidak, di belakang, ada gerbong Golkar siap melaju kencang.

Ati juga berada di posisi petahana, karena Walikota Edi Ariadi tidak ikut meramaikan bursa. Soal soliditas partai, tidak diragukan. Sejak awal para kader Golkar tampak solid dan sudah memanaskan mesin parpol di tingkat grasroot, demi memenangkan Ati.

Ati memang tak perlu membentuk barisan baru untuk setiap langkah politiknya menuju kursi orang nomor satu di Cilegon. Pasukan parpol, pendukung dan simpatisan, sudah rapat sejak lebih dari satu dasawarsa. Tepatnya, ketika Golkar Cilegon tumbuh dan berkembang di bawah sentuhan tangan dingin
Sang Ayah, mantan Walikota Cilegon Tb. Aat Syafaat.

Gerbong besar itu lantas dilanjutkan saudaranya, Tb. Iman Ariyadi, termasuk melanjutkan trah di kursi walikota. Sebagai pemimpin muda, Iman mampu menunjukkan kapasitasnya membangun Kota Cilegon, dengan penuh apresiasi. Karena itu, di pilkada keduanya pada 2015 lalu, Iman dengan mudah
mempertahankan kursi walikota lantaran seabrek prestasi diraih Pemkot Cilegon selama kepemimpinannya.

Sejarah kepemimpinan keluarga membuat Ati tak perlu lagi bersosialisasi. Ia sudah populer di mata warga Kota Cilegon sebagai calon pewaris tahta. Lebih dari itu, Ati sosok humanis yang pandai berkomunikasi. Ia membangun karier dari nol sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pengalaman dan karakter memimpin Ati, lengkap. Pengabdiannya di berbagai tugas, dijalani dengan penuh tanggung jawab. Tidak banyak diketahui, karakter pengabdian itu sudah terbentuk sejak mengabdi sebagai guru di salah satu sekolah menengah terpencil di Kabupaten Serang, selama bertahun-tahun.

Meneruskan pengabdian di struktural, karier Ati melewati sederet jabatan mulai Kabid, Kepala Dinas Pendidikan, dan bergeser memimpin OPD lainnya. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Pelaksana tugas Sekretaris Daerah (Plt Sekda) Kota Cilegon. Posisi terakhirnya sebelum ditetapkan sebagai wakil
walikota, Ati tercatat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di Pemkot Cilegon.

Tapi meski demikian, kemenangan pilkada ada di tangan rakyat. Pada 9 Desember 2020 kemarin, rakyat sudah menjawab keinginan terselubung di balik bilik suara. Selisih 10.634 suara atau 4,7 persen, cukup mencengangkan bagi seorang petahana.

“Ini sangat menarik perhatian. Selisih sepuluh ribuan suara itu tidak sedikit, dan ini membuktikan ada harapan baru yang hendak diusung dari hati rakyat di kepemimpinan Cilegon lima tahun ke depan,” ungkap Ifan, pemerhati pilkada jebolan sekolah demokrasi yang tinggal di Cilegon.

Secara pribadi, kata Ifan, hasil ini jauh dari prediksi awal. Sebab parpol-parpol petarung ada di belakang Ati. Kalau saja PDIP menjatuhkan pilihannya, lanjut dia, kemungkinan pula mengusung Ati.

“Golkar, Gerindra, partai petarung. Ati sendiri petahana. Ini tentu modal besar mengambil kans kemenangan. Tapi apa hendak dikata, rupanya rakyat ingin babak baru di kepemimpinan Cilegon berikutnya,” ujarnya.

Lantas siapa Helldy Agustian yang kini kejatuhan amanat warga itu? Dikutip dari situs helldysanuji.id, Helldy  Sanuji  lahir di Cilegon, 31 Agustus 1970. Helldy mengenyam pendidikan SD di kota yang berbeda, yakni di SD YPWKS 2 Cilegon dan SDN 7 Poso. Saat SMP ia bersekolah di SMP Sumbangsih Grogol Jakarta Barat, lanjut bersekolah di SMA 16 Slipi.

Helldy mengejar pendidikan tinggi di Universitas Pancasila Fakultas Ekonomi. Tahun 2011, ia kembali mengejar gelar sarjana, kali ini sarjana hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Fakultas Hukum. Kini ia sedang mengejar gelar S-2 master hukum. Sebelum menjadi pengusaha sukses,  Helldy Agustian  meniti karir sebagai seorang sales mobil tahun 1992. Kariernya menanjak hingga akhirnya menjadi seorang Branch Manager dealer mobil di Cilegon.

Helldy juga berhasil mendirikan beberapa perusahaan di bidang properti, air minum dan media. Selain itu, ia juga aktif di bidang politik, yakni dipercaya sebagai Ketua DPW Partai Berkarya Provinsi Banten. Selamat … (red)

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.