oleh

Pilbup-Pilwalkot di Banten Diprediksi ‘Saling Cokot’

Banten (WBO) – Strategi cokot-mencokot alias gigit-menggigit dukungan diprediksi bakal terjadi di pilkada serentak 2024 mendatang. Boleh jadi, adu gigit dukungan juga terjadi di internal partai saat berebut rekomendasi. Apalagi jika ada petinggi yang turun gunung demi menjaga atau merebut kembali kekuasaan daerah.

Sengit di dalam, sengit di luar. Begitulah kira-kira kondisi yang akan terjadi jelang pilkada 2024 nanti. Paling menonjol, yakni saling adu popularitas guna memanfaatkan peluang maju ke kursi pemimpin daerah. Terlebih sebagian di antaranya, pasangan incumbent tak lagi berasa petahana lantaran istirahat di masa transisi pilkada.

“Strategi memanfaatkan peluang untuk menggalang kekuatan, bisa dilakukan secara menyeluruh di daerah-daerah yang petahananya berhenti lebih cepat. Seperti di Pilgub Banten, Pilbup dan Pilwalkot Tangerang, Pilbup Lebak, Pilwalkot Serang,” cetus Arif Sumarmo, pemerhati pilkada di Banten, Ahad (26/9).

Di beberapa daerah itu, kata dia, meski ada petahana yang sangat mungkin berlaga kali kedua, tapi masa jabatan mereka habis lebih dulu sehingga tak lagi berkuasa saat gelaran pilkada.

Seperti diberitakan sebelumnya, separuh kepemimpinan daerah di Banten akan kosong selama menunggu waktu pilkada digelar. Seperti yang bakal dialami Gubernur dan Wakil Gubernur Banten, Wahidin Halim dan Andika Hazrumy. Masa jabatan keduanya akan berakhir pada 12 Mei 2022. Artinya, masih ada waktu transisi 2 tahun 6 bulan menuju pilkada 2024. Kekosongan jabatan ini akan diisi Penjabat Gubernur yang diangkat oleh Kemendagri.

Di Kabupaten Tangerang, Zaki-Romli akan mengakhiri jabatannya pada 21 September 2023. Kekosongan jabatan kepala daerah akan terjadi selama kurang lebih 1 tahun 2 bulan. Sementara kekosongan jabatan kepala daerah di Kota Serang, Kota Tangerang dan Kabupaten Lebak, diprediksi kurang dari satu tahun.

Di Kota Serang, masa jabatan Syafrudin-Subadri berakhir pada 5 Desember 2023, masa transisi sekitar 11 bulan. Di Kota Tangerang masa jabatan Arief-Sachrudin berakhir pada 26 Desember 2023, masa transisi 11 bulan. Sedangkan di Lebak, Iti-Ade mengakhiri jabatan pada 15 Januari 2024, masa transisi 10 bulan.
Dalam kondisi tersebut Arif menilai, persaingan sengit tak hanya akan terjadi saat gelaran pilkada, melainkan juga sebelum pilkada ketika para bakal calon berebut rekomendasi partai politik.

“Misalnya, petahana dari salah satu partai politik, sebelumnya menjabat wakil wali kota atau wakil bupati. Ketika dirasa kecil peluang menang di pilkada, boleh jadi DPP memiliki pertimbangan lain sebagai salah satu strategi pemenangan,” paparnya.

Demikian juga bagi parpol-parpol lainnya yang merasa ada peluang emas merebut kembali kekuasaan daerah. Menurut dia, persaingan sengit itu akan terjadi dalam perebutan rekomendasi parpol saat dua atau tiga kader terbaik berniat maju di pilkada.

“Saya sepakat memilih istilah saling cokot,” tandas Akademisi asal Tangerang ini.

Pengamat politik lainnya, Azar, berpandangan serupa. Aktivis jebolan sekolah demokrasi ini menilai, parpol-parpol gajah paling menantikan saat-saat transisi pilkada seperti ini untuk kembali merebut kekuasaan yang hilang.

“Yang paling menonjol saja saya sebut, misalnya di Kota Serang. Serang dan sekitarnya terkenal di bawah kekuasaan politik keluarga besar mantan gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Di Pilwalkot Serang terakhir, dinasti ini dipatahkan. Maka sangat mungkin gerakan merebut kekuasaan akan kembali menggeliat jelang Pilkada 2024 nanti. Apalagi misalnya hingga akhir masa jabatan, kepemimpinan saat ini belum menunjukkan sesuatu yang bisa signifikan dalam membangun daerah, ini akan lebih memantik peluang,” jelas Azar.

Luar dari daerah yang selama ini dikuasai, lanjut dia, Golkar dan kekuatan besar keluarga Atut juga boleh jadi membidik wilayah lain demi mencuri peluang kemenangan.

“Tentu saja dengan mempertimbangkan kans menang ya, karena selama ini kita tahu Golkar di Banten pandai mengkalkulasi. Pilkada Tangsel buktinya, kekuatan Golkar sanggup menghadapi parpol-parpol gajah lainnya, dan Golkar berhasil tanda kutip menitipkan Pilar Saga Ichsan yang notabene tak pernah mengambil peran politiknya di Tangsel. Itulah politik,” imbuhnya.

Sementara di Lebak dan Pandeglang, ia melanjutkan, keluarga besar tokoh ternama H. Mulyadi Jayabaya (JB) dan Ahmad Dimyati Natakusumah juga takkan tinggal diam sebab keluarganya telah habis masa jabatan.

“Di Lebak, anak JB, Iti Octavia, sudah dua kali menjabat. Sedang di Pandeglang, istri Dimyati, Irna Narulita, juga sudah dua periode. Kondisi ini tidak akan diabaikan begitu saja. Keduanya pasti akan menyiapkan anggota keluarga lain untuk menggantikan posisi. Nah, untuk parpol lain, ini juga momen menurunkan kader terbaik untuk merebut kembali kekuasaan,” sebut Azar.

Khusus di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang, kata Azar, Golkar memiliki kader mereka yang kini menduduki posisi wakil kepala daerah. Keduanya berpeluang dipertahankan, tapi tidak menutup kemungkinan diperlakukan berbeda.

“Maksud saya, bisa saja mereka dipertahankan, bisa juga menerapkan strategi lain jika dirasa peluang kemenangan akan sulit meskipun kader mereka sebelumnya petahana. Lagi-lagi saya katakan, Golkar Banten lebih cerdas memahami lapangan di setiap pilkada,” tutupnya. (red) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed