Pandeglang (WBO) – Proses penyurtilan dan pemilahan batu bara yang mencemari daratan Pulau Popole Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, atas insiden terdamparnya tongkang pengangkut batu bara pada awal bulan Desember tahun lalu, telah bersih terangkut. Proses ini dilakukan PT Matabima Bersama Indonesia (MBI).
Saat ini, PT MBI melakukan remediasi lahan atau tanah Popole dari serpihan dan bubuk batu bara kecil yang sulit dikerjakan melalui proses separasi antara batu bara dan koral pasir menggunakan semprotan air dan pemilahan manual, dengan metode bioremediasi.
“Sebetulnya memang saat dalam pembersihan batu bara ini sampai pada tahap tertentu setelah batu bara-batu bara yang mampu kita gali, yang mampu disaring dan yang mampu kita pisahkan itu sudah kita kumpulkan, itu kan ada satu tahap dimana ukuran batu bara dan jumlahnya itu sudah sangat sedikit, sehingga ya sama saja, kaya istilah kasarnya itu seperti mencari jarum ditumpukan jerami, ya seperti itu,” ungkap Juswono Budisdtiawan, S.Si, M.Sc., Direktur PT MBI, dalam wawancara ekslusif bersama WBO, Selasa (15/7/2025).
“Meskipun bisa kita ambilin, tetapi memang, pertama akan memakan waktu lama, yang kedua karena ukurannya yang sangat kecil, karena kan dari yang kita saring pakai air itu yang kita semprot, seperti serbuk dia sudah menyatu itu dengan pasir, mau kita ayak pakai saringan pun tetap akan sama dengan pasir, ini kan tidak bisa kita biarkan. Jadi selain secara fisik kita mengumpulkan, kemudian memisahkan, kemudian dimusnahkan, sampai tahap tertentu itu tidak bisa lagi dilaksanakan dengan cara seperti itu, karena kemampuannya untuk menyaring mengambil itu sudah tidak mampu,” paparnya.
Pada akhirnya, Juswono juga terus melakukan metode penangangan bagaimana cara menanggulangi hal itu.
“Nah berkaitan dengan hal itu kita punya tahap selanjutnya, supaya, pertama yang jelas yang sangat halus yang menyatu dengan pasir itu bisa tertanggulangi, yang kedua ada juga batu bara yang ukurannya besar-besar dan sampai sekarang kita masih menerjunkan beberapa pekerja untuk yang ada di pantai itu secara manual kita ambilin, bukan lagi diseparasi pakai air, kalau sebelumnya kan diseparasi pake air, disemprot sehingga terpilah, nah kalau ini yang tersebar itu kita ambilin,” ujarnya.
“Nah seperti itu, jadi sebetulnya karena batasan itulah maka kita tidak bisa hanya sekadar mengandalkan pemilahan dan pengambilan secara manual itu karena tidak mampu lagi dilakukan, bukan karena semata-mata malas atau ngirit biaya, jadi bukan di situ, nah makanya kenapa kok ada beberapa batu bara itu kalau kita lihat sepintas itu ditimbun, memang benar itu gak salah ditimbun, tetapi sebetulnya bukan hanya sekedar ditimbun supaya tidak kelihatan,” terang Juswono.
“Tetapi ada suatu proses di alam itu yang namanya remediasi, dimana proses remediasi secara umumnya itu bisa kita sebut dia itu dicerna oleh alam lah, dia mengalami proses menjadi natural lagi, nah proses-proses itu di alam itu sebetulnya dibantu selain proses fisik misalnya panas, benturan, proses kimiawi di alam itu , gesekan dan sebagainya, itu juga terdapat proses yang dilakukan oleh mikrobia atau biota-biota yang kecil mikrobia,” sebutnya.
Ia juga menyampaikan bahwa proses di alam tersebut sering disebut sebagai bioremediasi, bioremediasi yang terjadi secara biologis.
“Yang kita coba terapkan didalam menangani batu bara yang sudah kesulitan lagi untuk kita seleksi secara manual, jadi memang prosesnya itu ditimbun, tetapi bukan sekadar ditimbun seperti itu saja, tapi kita akan mencari kalau kami melakukan pendekatan, kurang lebih ada dua kategori mikrobia yang kita manfaatkan, yang satu jamur dan yang kedua yaitu bakteri,” kata Juswono.

Menurut dia, jamur digunakan untuk memecah batu bara menjadi pecahan-pecahan menjadi pecahan lebih kecil.
“Nah, setelah sudah sangat kecil yang efektif untuk melakukan pemecahan dan penguraian itu adalah bakteri. Yang ketiga, meskipun ini tidak terpisah banget itu adalah campuran antara jamur dan bakteri, karena jamur itu kasarnya dia memiliki akar ya, akar inilah yang nanti juga dimanfaatkan bakteri untuk tumbuh jadi sebenarnya mereka itu saling bantu sebetulnya secara ilmiah,” terangnya.
Saat ditanya soal jenis dan dari mana mendapatkan jamur tersebut, Juswono menjawab jenis jamur yang dicarinya jenis jamur yang bisa memecah dengan sebutan nama lignin.
“Jadi lignin itu salah satu unsur dari kayu, dimana lignin ini juga terdapat di dalam batu bara. Tapi kalau di dalam batu bara bukan lagi namanya lignin tetapi lignit namanya. Nah jamur-jamur ini memiliki enzim yang bisa mengurai itu, kita cari, dimana jamur itu, kita tidak mencari dari luar, tidak mengintroduksi lingkungan Popole menggunakan bahan asing artinya jamur dari luar, tetapi kita cari jamur-jamur pengurai kayu kurang lebih begitu yang secara alami itu ada di Popole,” jawabnya.
“Selain itu, jamur-jamur yang ada di Popole sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan itu, memang dia hidup di situ, jadi kita cari di rawa-rawa di tengah pulau itu, terus itu juga menggunakan dasar pemikiran bahwa sebetulnya jamur itu tidak tahan terhadap salinitas atau kadar garam, sebenarnya, tetapi ada jamur yang tahan garam, sehingga apa bila kita mencari bibit-bibitnya itu dari rawa-rawa yang ada ditengah pulau Iitu istilah mengirit upaya, jamur yang hidup disitu pasti dia tahan salinitas tinggi atau kadar garam tinggi. Nah itulah yang kita manfaatkan,” bebernya.
Lebih lanjut Juswono menjelaskan, yang dilaksanakannya saat ini memang batu bara itu ditimbun.
“Tetapi bersama dengan itu kita sedang membuat titik dari jamur itu kita menyebutnya inokulum. Caranya adalah kita membuat lubang kemudian ambil jamur dari tengah pulau, yang ada di dalam kayu-kayu busuk, kayu-kayu busuknya kita cacah kecil-kecil, kemudian kita campur dengan tanah lalu kita masukan dalam lubang supaya dia subur kita campurkan dengan urea, nah setelah sekitar beberapa hari maka nanti inokulum tadi itu, bahannya untuk membuat supaya remediasi itu berjalan itu adalah bahan ini,” lanjutnya.
“Tanah yang sudah mengandung jamur yang sudah subur, nah nanti setelah itu jadi, kita ambil di bahan tadi kita sebar bahannya di atas timbunan, kita sebar di atas pasir timbunan kemudian kita tutup,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Direktur PT MBI merupakan seorang ahli lulusan S1 Biologi Universitas Gajah Mada (UGM), dan S2 Ilmu Lingkungan UGM. Ia terus melakukan metodenya dengan mengetes untuk mengetahui seberapa jauh proses ini juga sudah berjalan, dalam kontrolingnya.
“Selain dari batu bara-batu bara ada yang halus dan mungkin ada batu bara yang kasar juga yang tadi kita tutup tadi yang dikasih jamur itu. Selain itu kita juga membuat petak-petak, petak-petak kontrol istilahnya, sebanyak 12 petak, nah masing-masing ukuran 1,5 x 1,5 dengan kedalaman kurang lebih 1 meter, dimana disetiap petaknya, kan ada 12, setiap 4 petak itu kita kasih batu bara yang dicampur jamur tadi, yang kedua 4 petak kedua kita kasih bakteri dan 4 petak ketiga kita kasih bakteri dan jamur jadi satu,”
“Teknis yang dilakukan nanti kita melalui 12 kotak ini kita bisa mengontrol jika dikasih jamur saja itu prosesnya seperti apa, jika dikasih bakteri aja seperti apa dan jika dikasih atau dicampur dua-duanya seperti apa. Nah insya Allah kita sedang mengajukan karena itu tahapan dari ini, itu sampai satu tahun kedepan kita akan tetapi mengontrol setiap bulan,” lanjutnya.
Ia juga mengatakan metode yang dilakukannya lebih kepada untuk memudahkan prosesnya seperti apa.
“Jadi secara teoritis memang batu bara ini akan bisa terurai. Jadi di dalam batu bara ini sebetulnya satu hal yang paling menonjol itu adalah PAH. PAH itulah yang harus bahannya diwaspadai dan PAH itulah yang nanti bisa mampu terurai oleh jamur, sehingga dia akan terpecah menjadi karbon O2 dan air, jadi kalau dia sudah terpecah seperti itu nanti dia sudah tidak lagi berbahaya,”
“Tetapi kalau dia masih berbentuk PAH maka itu berbahaya, satu senyawa dalam batu bara kalau sengaja atau kita kemakan dalam jumlah besar terkonsumsi itu akan menimbulkan dampak kesehatan, tapi dengan adanya dipulau itu terdapat kita berikan jamur-jamur jenis tertentu itu, maka secara teoritis secara alamiah PAH batu bara besar akan dipecah oleh jamur, PAH nya yang lebih kecil-kecil lagi akan diolah atau di degradasi oleh bakteri,” pungkasnya.
Harapan pihak PT MBI yang membidangi jasa konsultan lingkungan dengan personel para ahli observasi dan kajian juga penanganan lingkungan yang tercemar, pada penanganan cemaran batu bara yang berada di Pulau Popole bisa memberikan kontribusi terhadap percepatan degradasi atau yang disebut remediasi batu bara tersebut. (ADVERTORIAL)
Penulis : Mulya Nurdiana
Editor : Redaksi






