Pandeglang (WBO) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang, mengapresiasi metode bioremediasi yang dilakukan PT Matabima Bersama Indonesia (MBI) untuk penanganan lahan darat Pulau Popole Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, dari cemaran serbuk batu bara.
“Kami dari LH sangat mengapresiasi langkah yang diinisiasi oleh PT MBI ini, dalam hal pemulihan tanah di Pulau Popole pasca adanya tumpahan batu bara yang tercecer disekitar perairan Pulau Popole pada awal bulan Desember tahun lalu,” kata R. Andriawan, Kepala Bidang (Kabid) Penataan Peningkatan Kapasitas Lingkungan DLH Pandeglang, saat diwawancarai WBO disela peninjauan Pulau Popole secara bersama pada Senin (21/7/2025).
“Tugas mereka sebetulnya sudah selesai, namun PT MBI tidak lepas begitu saja, mereka menunjukkan kepedulian dan perhatiannya atas kondisi tanah di Popole. Terus terang bagi kami ini hal baru dan ilmu baru dalam proses pembersihan akibat tumpahan batu bara, patut ditiru dan dikembangkan,” ungkapnya.
Selain pihak DLH Pandeglang yang mewakili Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten, acara peninjauan penanganan metode Bioremediasi di Pulau Popole, juga dihadiri langsung oleh pihak PT Trans Logistik Perkasa (TLP), Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Syahbandar Labuhan, Polairut, TNI AL, unsur Muspika Kecamatan Labuan, pihak Pemerintah Desa Cigondang, anggota Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Labuan juga beberapa warga setempat.
Sebelum peninjauan secara langsung ke Pulau Popole, PT MBI melakukan sosialisasi secara visual yang dijelaskan langsung oleh Juswono selaku Direktur PT MBI. Ia menjelaskan pihaknya hanya ditugaskan untuk membersihkan tumpahan batu bara hingga tidak ada material lain yang ikut terbawa ketika di bersihkan.
“Total hasil pembersihan ini ada sekitar 11.000 hingga 12.000 karung. Informasi awal yang menyampaikan bahwa terdapat 5.000-6.000 karung sekian itu mungkin koralnya, dan tugas kami itu ya itu membersihkan ceceran batu bara yang tumpah dengan cara memisahkannya dari material lainnya,” terangnya.
Juswono menjelaskan, untuk pembersihan tumpahan batu bara ini PT MBI menggunakan dua metode, yakni metode cangkul dan separasi (pemisahan) antara serpihan batu bara dengan pasir/koral.
“Metode pertama kami melanjutkan dari teknik sebelumnya yakni dengan cara cangkul tapi ternyata kurang efektif, akhirnya kami gunakan metode kedua yaitu separasi (pemisahan) dengan cara disemprot agar serpihan batu bara terpisah dari pasir/koral. Dan kami memang harus detail dalam proses pembersihan batu bara ini. Selain itu kami juga harus sangat terperinci sekali, mulai dari penggunaan karung, berat isi hingga penumpukan itu harus rinci,” jelasnya.
Ia mengaku bersyukur para pekerja di perusahaannya sudah dapat perlindungan dari badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) kesehatan, mengingat beberapa waktu lalu ada salah satu pekerja yang mengalami kecelakaan.
“Soalnya beberapa waktu lalu ada pekerja yang mengalami kecelakaan, dimana kepalanya kebentur kayu, karena sudah dicover, gratis dia bisa diobati dan sekarang sudah pulih jadi BPJS ini bukan ketika pekerja mengalami sesuatu trus dapat uang bukan seperti itu ya… Tak hanya itu, kami juga setiap pagi konsisten melakukan pengecekan KTP para pekerja dan menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3),” ungkap Juswono.
Di tempat yang sama, Agus Hermawan, Eksternal Relation Trans Logistik Perkasa (TLP) menambahkan, seperti diawal-awal telah disampaikan bahwa untuk mempercepat proses pembersihan dan yang berantakan tadi merupakan emergensi dengan melibatkan masyarakat sekitar untuk melakukan pemungutan. Mudah-mudahan akhir bulan ini pekerjaan pembersihan batu bara selesai.
“Terima kasih atas kontribusi dan kerjasamanya kepada seluruh masyarakat sehingga pekerjaan ini bisa dikerjakan dengan baik tanpa kendala apapun, semoga silaturahmi ini terus terjalin dengan baik,” tandasnya.
Sementara, Ade Suraatmaja, Divisi Lapangan PT MBI menyebut, bahwa metode bioremediasi ini baru pertama kali dilakukan untuk peleburan batu bara, dimana untuk proses awal PT MBI melakukan penyemaian terlebih dahulu dengan cara mencampurkan tanah dengan jamur/mikrobia yang tumbuh di Pulau Popole.
“Lama prosesnya sendiri itu memakan waktu sekitar tiga bulanan, jika zat liktin/liktida dari si jamur ini membaur dengan tanah dan kayu rapuh yang telah dicampur yang kami tempatkan pada kotak-kotak berukuran 1,5×1,5 meter dan lebar 1 meter, yang sudah sama-sama kita saksikan bersama tadi maka akan kami pindahkan ke lokasi pertama dimana batu bara menumpuk yang ada didepan sana yang kami beri nama ‘stok batu bara’. Naah, jika di lokasi ini berhasil maka akan ditebar ke sejumlah titik yang memang masih terdapat serpihan tumpahan batu bara dan itu akan berproses dengan sendirinya secara alami tanpa bantuan apa-apa lagi,” pungkasnya. (mul)






