Pandeglang (WBO) – Ratusan massa dari Himpunan Serikat Nelayan Indonesia (HNSI) Kecamatan Labuan melakukan aksi demonstrasi berlanjut sweeping ke beberapa lokasi di antaranya Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Syahbandar Labuhan, PLTU Banten 2 Labuan, juga kapal tongkang di sekitar perairan Pulau Popole dan Liwungan.
Aksi itu digelar buntut dari insiden kapal nelayan Desa Teluk Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang yang diduga tertabrak oleh tongkang di perairan laut Pasauran Serang pada (12/9/2025) pekan kemarin. Insiden itu mengakibatkan perahu kapal nelayan hancur dan lima awak kapal nelayan jadi korban, dengan kondisi salah satu diantaranya sempat hilang dan ditemukan sudah tidak bernyawa di Pulau Sebesi Lampung Selatan Provinsi Lampung.
Para nelayan yang dimotori HNSI merasa kecewa atas luputnya informasi kejelasan tongkang tersebut. Saat aksi demo berlangsung di KUPP Kelas III Syahbandar Labuhan, massa mendesak dengan beragam tuntutan dari para massa aksi atas kejelasan status dan tanggung jawab pihak pemilik tongkang diutarakan, karena berkaitan status tupoksi Syahbandar soal pelabuhan dan lintas kapal dan tongkang.
Di tengah aksi berlangsung, di atas mobil komando, Bayu, anak Casmito (nelayan korban meninggal) turut menyuarakan keluhannya dengan menjelaskan bahwa dirinya beserta keluarga korban mempercayakan langkah dan gerakan tuntutan keadilan kepada HNSI. Hadir juga berorasi HNSI Kabupaten Pandeglang yang turut peduli menyuarakan keluhan dan tuntutan nelayan serta dibantu juga Jaro kodok atau endin mantan kepala Desa Teluk.
Setelah menunggu lama di bawah terik matahari, para nelayan akhirnya ditemui Plt Kepala KUUP Kelas III Labuan, Muslim Makmur. Namun jawaban yang mereka terima jauh dari harapan.
“Proses baru sampai pada pengumpulan keterangan dari nelayan, belum lebih dari itu,” kata Muslim singkat, yang sontak memicu riuh kekecewaan massa aksi.
Merasa tidak puas, sempat terjadi kekisruhan dan akhirnya dilerai oleh pihak polisi difasilitasi Kapolres Pandeglang langsung. Akhirnya beberapa orang dari perwakilan massa aksi dipertemukan di dalam kantor UPP Kelas III Syahbandar untuk beraudensi langsung.
Namun demikian, tak cukup hanya di situ, setelah melewati waktu Zuhur dan istirahat, massa melanjutkan aksinya dengan membagi dua kelompok aksi, aksi lewat darat di depan gerbang PLTU Banten 2 Labuan berikut dengan melakukan aksi ke perairan gawang Jetty PLTU Banten 2 Labuan lewat laut dengan sejumlah kapal perahu nelayan, sambil melakukan sweeping ke takboat dan tongkang yang sedang berlabuh.
Selanjutnya, massa aksi dibantu sejumlah pihak setelah melakukan aksi lewat laut berlanjut audiensi yang difasilitasi di aula Balai Pelabuhan Perikanan Pantai (BPPP).
Saat audiensi, M. Sofiyuddin Aziiz selaku Manajer administrasi Indonesia Power PLTU Banten 2 Labuan mengutarakan permohonan maafnya dan mengaku prihatin atas kejadian insiden kapal nelayan yang diduga tertabrak oleh kapal tongkang di perairan Pasauran, namun pihaknya juga masih menggali informasi dan menunggu perkembangan kebenarannya.
“Sebetulnya waktu itu kami berniat mengunjungi segera datang kerumah keluarga korban, namun kami mendapatkan saran, kami masih plinplan apakah kami harus segera atau menunggu, kita juga kapal sudah berkoordinasi dengan Syahbandar, terkakit proses penyelidikan, Kami siap, kami mendukung proses penyelidikan ini karena ini soal menyangkut nyawa manusia, dan terkait soal urusan hukumnya kita serahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak yang berwenang,” terangnya.
Pantauan WBO, atas berlangsungnya aksi massa tersebut, selain pihak TNI, pihak kepolisian gabugan dari Polres Pandeglang dan personel Polda Banten turut serta melakukan penjagaan dan pengamanan yang menyebar dan dibagi di beberapa lokasi. (mul)






